Sore ini, sore kedua dibulan Ramadhan, kuarahkan motor matic merah yang masih berlumpur karena guyuran hujan kemarin sore, menuju sebuah kontrakan kecil berukuran 9x12 meter. Letaknya sangat dekat dengan jantung kota, namun ketika kalian berbelok masuk kedalam lorong rumah itu, kau akan menyadari bahwa dikanan kiri jalan ada banyak sayuran yang tertanam layaknya lahan pertanian di perkampungan. Di bagian depan kontrakan tersebut terdapat satu kandang iguana, serta balai bambu yang biasa dipakai oleh penghuni rumah tersebut untuk bertukar pikiran atau sekedar bercanda gurau. Sering rumah itu disebut rumah peradaban, Rumah Nalar.
Rumah Nalar, sebuah rumah kecil yang pada dasarnya merupakan sekretariat alternatif dari sebuah lembaga penelitian mahasiswa salah satu universitas di Makassar, detil tentang lembaga ini mungkin tidak perlu kupaparkan disini, karena di tulisan ini aku akan bercerita tentang "relation(ikatan-red)", sebuah kata yang sangat familiar bagian kalian, dan mungkin sudah sering kalian dengarkan dalam bahasa sehari-hari atau dalam video-video motivasi yang banyak di youtube. Sore itu aku datang untuk kembali mengaktifkan kelas bahasa inggris yang vakum selama beberapa bulan karena kesibukan di tempat kerja. Kelas bahasa inggris yang kuberi nama Lantern merupakan kelas gratis yang kubuat untuk adik-adik mahasiswa yang ingin belajar berbahasa inggris, tak ada sedikitpun bayaran atau pamrih dalam kelas ini. Syaratnya cuma ikuti prosesnya, hargai waktu, dan belajar. Itu saja. Kelas ini kudirikan sejak Agustus 2015 yang lalu, dengan harapan aku bisa membantu adik-adik disekitarku, terkhusus mereka yang berada di Rumah Nalar, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam berbahasa inggris. Sejak didirikan, sudah terdapat tiga kelas yang telah terbentuk, satu untuk basic, dan dua untuk kelas lanjutan. Jumlah peserta yang ikut di tiap-tiap kelas kubatasi tidak boleh lebih dari 10 orang untuk memaksimalkan proses belajar mengajar.
 |
| Studying is never enough process-A.Najib |
Sore itu aku hanya mengajar dua orang, sangat sedikit dari yang seharusnya, mungkin karena sudah lama vakum, pikirku. topik yang ku ajarkan hari ini adalah
introduction & conclusion dalam membuat sebuah essay. Satu hal yang membuatku senang untuk mengajar mereka adalah semangat yang mereka miliki, kemauan untuk maju dan berkembang, kemauan mereka merelakan waktuya untuk belajar. Dan dari banyak hal yang saya sukai tentang mengajar di kelas ini adalah terbentuknya sebuah ikatan. Sebuah efek sosial dari aktivitas sederhana yang kulakukan. Ikatan yang merepresentasikan sebuah penghargaan yang tidak dapat dinilai dengan uang. Ikatan dimana kalian dapat melihat semburat senang dari wajah mereka ketika sedang belajar, ikatan dimana kalian dapat melihat sebuah kesungguhan dari kerutan di dahi mereka ketika berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan, ikatan yang kemudian muncul yang membuatmu merasa bahwa mereka menganggapmu bukan sekedar sosok senior, tapi sosok yang selalu ingin berbagi dengan mereka, sosok yang selalu ingin bertukar pikiran dengan mereka.
Karena berbagi, akan selalu berujung pada kepuasan bathin.
Walaupun berlangsung selama satu jam lebih, proses belajar sore itu terasa singkat, relativitas waktu atau mungkin ilusi pikiran karena proses yang dilalui menyenangkan. Dalam setiap kelas yang kuajar, aku selalu menanamkan dalam diriku sendiri bahwa proses belajar mengajar bukan sekedar tentang apa yang sedang kita ajarkan, tetapi bagaimana kita mengajarkannya sehingga terdapat value yang tertinggal dalam mindset mereka. Dan kali ini, valuenyai adalah ikatan-sebuah bayaran dari aktivitas sederhana.
-A. Najib Alfatih-
Makassar, 7-6-2016